RELIGI  

Renungan awal Tahun 2022: Perdamaian mulai dari diri sendiri

Bacaan kita hari ini menceritakan tentang Yakub yang begitu ketakutan bertemu dengan saudara kembarnya, Esau. Ia takut karena ia mengambil hak kesulungan saudaranya dengan cara yang tidak jujur atau menipu.

Namun kita tidak boleh terjebak di dalam polemik ini, melainkan melihatnya dari persepsi iman, bahwa Allah berdaulat merancangkan apa yang terbaik bagi umat-Nya kendati umat-Nya pernah melakukan kesalahan.

Kembali ke soal Yakub, ia meninggalkan mertuanya, Laban dan melanjutkan perjalanan untuk mengubah kembali masa lalu yang pahit dengan membangun keluarga yang rukun dan damai. Yakub memulaikan perjalanan hidupnya bersama dengan Tuhan.

Kita percaya hanya orang yang selalu memulaikan perjalanan hidupnya bersama dengan Tuhan, maka dia dapat mengubah masa lalu yang pahit dan kelam menjadi masa kini dan masa depan yang membahagiakan dan menyejahterakan.

Yakub memiliki rancangan strategis untuk memulaikan perdamaian dengan saudaranya. Metode ini sangat tepat untuk menggugah nurani persaudaraan dan menghilangkan kemarahan atau kebencian.

Ia mulai dengan doa, merancang waktu yang tepat langkah demi langkah, menggunakan kata-kata yang bijak untuk mengambil hati atau mendapatkan kasih kakaknya, Esau.

Ia menyuruh utusannya berjalan lebih dahulu dan menyampaikan kepada Esau, pengalaman hidupnya sebagai orang asing dan bagaimana ia berjuang keras untuk mendapatkan isteri, dan menikmati hidup sejahtera di tanah orang. Ia pergi hanya dengan tongkat, kini pulang dengan keluarga dan kekayaan berlimpah.