Ia membagi dua pasukan untuk menjumpai Esau. Dalam kekalutan dan kesesakan hatinya ia berdoa memohon bahwa Tuhan yang menyuruhnya kembali (Pulkam) akan berbuat baik kepadanya.
Ia mengaku akan ketidaklayakan terhadap kasih setia Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan akan melepaskan dan menjadikan keturunannya seperti pasir di laut yang tidak dapat dihitung.
Esau yang memiliki 400 orang pasukan yang bersama dengan dia menjumpai. Yakub memiliki prasangka yang buruk, ia berpikir kakaknya Esau akan membunuhnya. Dalam keadaan seperti ini, ia tidak mengandalkan kekuatannya, ia mengandalkan Allah yang berjanji padanya.
Hal ini seringkali juga kita lakukan, jika kita berlutut di hadapan Allah, maka kita dapat berdiri tegak di hadapan siapapun. Ketika kita mengangkat tangan maka Allah akan turun tangan untuk menolong umat-Nya.
Selanjutnya Yakub menyiapkan persembahan atau tanda kasih untuk Esau. Masing masing menurut jenisnya; kambing betina, kambing jantan, domba betina domba jantan, unta, lembu betina, lembu jantan, keledai betina dan keledai jantan.
Jadi ada 9 (Sembilan) kumpulan. Yakub sengaja mengatur jarak setiap kumpulan untuk memperlambat waktu pertemuannya dengan Esau. Cara ini sangat strategis untuk menunjukkan penghormatannya kepada kakaknya, Esau. Cara ini disebutnya sebagai upaya mendamaikan hati orang yang membenci atau memusuhinya.
Keteladanan Yakub untuk mengambil hati atau mendapatkan kasih harus kita lakukan dalam membangun perdamaian dengan sesama. Hanya dengan kesabaran, kerendahan hati dan sikap yang mau mengalah, berani mengakui kesalahan maka kita dapat menghentikan kegeraman/kemarahan.
















