Orang yang disalib, kedua tangannya diikat, kaki diberi pijakan kayu dan dijemur di terik matahari serta menjadi tontonan publik.
Penyaliban Yesus Kristus justru lebih daripada itu, sebab kedua tangan dan kaki Tuhan Yesus dipakukan pada kayu salib hingga mengeluarkan darah dan dijemur di bawah terik matahari.
Benarlah yang disebutkan dalam Ibrani 9:22, “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan”.
Ayat 21.
Melihat kelelahan fisik yang dialami Yesus Kristus (dipakaikan mahkota duri, dipukul kepala-Nya dengan buluh dan disesah), membuat tentara Romawi memaksa Simon dari Kirene untuk memikul salib yang dipikul-Nya.
Bukan karena kasihan, tetapi karena mereka tidak ingin Yesus Kristus mati di perjalanan saat menuju penyaliban. Kirene adalah salah satu kota besar di Libya, Afrika Utara.
Pada waktu itu, Simon, ayah dari Aleksander dan Rufus sedang melakukan perjalanan ke Yerusalem untuk merayakan Paskah dan Pentakosta.
Rufus salah seorang anak dari Simon disebut juga sebagai orang pilihan Tuhan dan yang disebut oleh Paulus dalam surat Roma 16:13.
Ayat 22-23.
Yesus Kristus dibawa ke Golgota yang menjadi tempat penyaliban orang-orang yang mendapat hukuman mati dari pemerintah Romawi.
Golgota berasal dari bahasa Arab yaitu Gulgatta artinya tengkorak dan dalam bahasa Latin disebut Calva/calvarium diturunkan menjadi kata Calvary.
















