Sumber hikmat sang petani adalah Tuhan sendiri. Tuhan adalah Guru hikmat yang mengajar dan memberi petunjuk.
Hal yang diajarkan dan dilatih oleh Tuhan adalah cara yang tepat. Kata yang digunakan adalah lammispat dari! mispat, artinya: peraturan, keadilan.
Tuhan, Sumber hikmat atau Guru hikmat itu telah mengajari keadilan, kebenaran, dan hikmat kepada umat-Nya.
Kepada Tuhan itulah, pujian dalam ayat 29 diberikan: Ia ajaib dalam keputusan dan agung dalam kebijaksanaan.
Sebab, jika sang petani saja dapat sedemikian bijaksana dalam bekerja, bayangkan bagaimana bijaksananya Tuhan, Sumber hikmat itu sendiri yang mengaruniakan hikmat kepada si petani.
Tuhan ajaib dan agung dalam keputusan-Nya dan tindakan-Nya kepada umat-Nya, termasuk dalam tindakan untuk menghukum umat-Nya yang bebal dan tidak mau hidup sesuai dengan kehendak firman-Nya.
Sekilas membaca ayat 23-29 sepertinya tidak memiliki hubungan dengan ayat 1-22, sebab memiliki nada yang berbeda.
Ayat 1-22 berbicara tentang nubuat penghukuman bagi umat, sedangkan ayat 23-29 merupakan perumpamaan tentang bagaimana seorang petani mengelola tanahnya.
Namun, jika kita memahami teks ini dalam konteks nabi Yesaya, maka dapat dikatakan bahwa teks ini berbicara tentang bagaimana perlakuan Tuhan kepada umat-Nya.
Tuhan telah melakukan banyak hal tetapi mereka lebih memilih untuk melakukan kehendak sendiri dan mengandalkan bangsa-bangsa lain yang menurut mereka mampu menyelamatkan.
















