RELIGI  

MTPJ GMIM 11-17 Januari 2026 : Berjalanlah di Dalam Terang Tuhan

Jadi, maksud pernyataan ini adalah agar Tuhan Allah mengajarkan cara bagaimana sepatutnya orang yang percaya kepada-Nya hidup, agar mereka dapat melakukan apa yang dikehendaki-Nya.

Ini berarti ada keinginan dan kesediaan diri dari bangsa-bangsa lain untuk juga hidup sesuai kehendak Tuhan Allah.

Dalam konteks Yesaya, ini justru merupakan peringatan atau tuntutan kepada umat agar mereka juga hidup sesuai dengan kehendak-Nya.

Kemudian ayat 4, hendak menggambarkan posisi Tuhan Allah sebagai sumber pengajaran di Sion ini, yang akan bertindak menjadi hakim (Ibr: syapat: menghakimi; memutuskan) dan wasit (Ibr: yakakh: menegur; mengoreksi; membuktikan), yang adil untuk semua bangsa.

Ia akan menghakimi antara bangsa-bangsa (Kata Ibr. gō-w-yim artinya nations, people) dan memutuskan perkara bagi banyak suku bangsa (Kata Ibr.‘am-mîm artinya folk=umat).

Ini menunjukkan bahwa Tuhan Allah berkuasa atas seluruh bangsa. Dia bukan hanya Tuhan Allah Israel yang berkuasa atas mereka, melainkan juga atas seluruh bangsa.

Demikian pula, penegakan keadilan dan ketertiban universal menjadi langkah selanjutnya setelah mereka mendengarkan dan menerima pengajaran dari Tuhan ini.

Hal ini akan membawa dampak yang signifikan terhadap kehidupan bersama di dunia, karena umat manusia pada akhirnya akan hidup dalam kedamaian dan keadilan.

Hal ini di jelaskan secara eksplisit dengan “Pedang yang ditempa menjadi mata bajak” dan “tombak menjadi pisau pemangkas,” adalah sebuah penjelasan akan terjadi transformasi ke arah yang baik di masa depan.

Sebab pedang dan tombak adalah merupakan alat-alat yang digunakan dalam peperangan, Tuhan Allah mengubahnya menjadi mata bajak dan pisau pemangkas atau menjadi alat-alat pertanian yang produktif.