Hal ini lebih ditegaskan lagi dengan pernyataan bahwa “mereka tidak akan lagi belajar perang.” Ayat 5 menjelaskan dua hal.
Pertama, ajakan kepada kaum keturunan Yakub. Kata “kaum” diterjemahkan dari kata Ibrani bêṯ yang dapat berarti “rumah” atau “keluarga,” yang mengacu pada keturunan dalam sebuah keluarga atau rumpun/kumpulan keluarga atau juga suatu rumah tangga.
Keturunan Yakub menunjuk pada bangsa Yehuda (Selatan) dan Israel (Utara), agar mereka hidup dalam kebenaran dan petunjuk Tuhan Allah bahkan mereka diajak untuk mendengarkan dan mematuhi pesan yang disampaikan melalui nabi Yesaya.
Kedua, mereka berjalan di dalam terang TUHAN (YHWH). Mereka tidak berjalan sendirian atau berjalan sesuka hati sesuai selera mereka sendiri, tapi harus di dalam Tuhan Allah.
Berjalan dalam terang Tuhan Allah artinya adalah tetap berjalan dalam kehendak dan rencana-Nya.
MAKNA DAN IMPLIKASI FIRMAN
1. Seperti Bait Allah di Yerusalem yang menjadi pusat ibadah dan pengajaran hukum dan firman Tuhan, maka gereja jangan hanya menjadi pusat ibadah/penyembahan, melainkan juga harus menjadi tempat di mana jemaat mendapatkan pengajaran yang benar dan mendalam.
Sekaligus juga menjadi tempat penyampaian pengharapan tentang masa depan yang lebih baik, di mana keadilan dan kedamaian dari Tuhan Allah akan terwujud.
Sambil membuka diri untuk menerima semua orang tanpa memandang latar belakang. Inilah inklusivitas yang dimaksud nubuat Yesaya bahwa segala bangsa akan datang menyembah Tuhan Allah (Kis.10:34-48).
2. Gereja harus menjadi agen transformasi sosial pembawa damai yang mengubah keadaan suatu masyarakat dari konflik menjadi hidup yang mencari kedamaian, dari adanya praktek ketidakadilan menjadi pelaku keadilan.
Sebab hal ini akan sejalan dengan gambaran dari nabi Yesaya tentang pedang yang ditempa menjadi mata bajak.
Pengajaran Tuhan Yesus akan membawa keadilan dan kedamaian universal, mengubah alat perang menjadi alat pertanian yang produktif.















