RELIGI  

MTPJ GMIM 11-17 Juli 2021: Etika pengucapan syukur

Karena itu harus terus-menerus berdoa tanpa jemu, tanpa lelah, dan terus berdoa kepada Allah. Dengan berdoa, dapat mencurahkan seluruh isi hati dan berbagai tantangan pergumulan yang dihadapi. (Ayat 16-17)

“Mengucap syukurlah” (Yunani: Eucharisteo) artinya mengucap syukur, berterima kasih atau bersyukur, memper-sembahkan doa syukur. Rasul Paulus berkata, inilah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu supaya kita mengucap syukur, sebab Allah sudah berdamai dengan kita di dalam Kristus Yesus.

Di dalam Dia, oleh Dia, dan demi Dia, Allah mengizinkan jemaat untuk bersukacita senantiasa, dan meminta jemaat untuk selalu mengucap syukur dalam keadaan apapun. (Ayat 18).

Mengucap syukur adalah bagian penting dalam kehidupan orang percaya yang tidak boleh diabaikan dan disepelehkan. Sebab mengucap syukur dalam hal dikehendaki Allah dalam Yesus Kristus.

Paulus menutup suratnya dengan memberikan nasehat supaya jemaat tidak memadamkan Roh, tidak menganggap rendah nubuat-nubuat, menguji segala sesuatu dan memegang yang baik serta menjauhkan diri dari segala jenis kejahatan.

Jadi etika bersyukur menunjukkan kwalitas relasi yang baik dengan Tuhan dan sesama serta sikap hidup yang dikehendaki Tuhan.