Hal ini menekankan bahwa ratapan itu melintasi waktu dan generasi yang diberlakukan secara kolektif, tetapi juga secara pribadi atau keluarga.
Bahkan ada juga yang menangis sambil berbicara hendak menyatakan ratapan yang dialaminya.
Kalimat “…. memandang kepada dia yang telah mereka tikam.” (ay.10). Betapa dalamnya ratapan dan tangisan tersebut sambil memandang kepada dia yang mereka tikam sebagai tanda pertobatan yang sungguh-sungguh.
Muncul pertanyaan “siapakah dia” yang dimaksud dalam ayat ini, apakah menunjuk pada nabi Zakharia atau kepada seseorang dari zaman yang akan datang?
Injil Yohanes kemudian mencatat penggenapan nubuat nabi Zakharia ini pada penyaliban Yesus Kristus (Yoh. 19:37; Wahyu 1:7.
Pada saat prajurit Romawi menikam lambung-Nya dengan tombak (Yoh 19:34), maka keluarlah darah dan air.
Hal itu merupakan titik puncak semua penghinaan yang ditimpahkan kepada Yesus Kristus dan dengan pengorbanan-Nya di kayu salib seluruh umat manusia ditebus dari dosa mereka karena penumpahan darah Yesus tersebut.
Sebaliknya air menyimbolkan penyucian. Pertobatan hanya teijadi ketika kita dipersekutukan dengan Yesus Kristus.
















