Paulus mengajak jemaat untuk saling menerima sebagai sahabat dan saudara. Orang Kristen Yahudi menganggap orang Kristen non-Yahudi bukan sebagai sahabat atau saudara seiman yang sepadan.
Karena mereka berkeyakinan bahwa keselamatan harus melaksanakan hukum Taurat dan tradisi Israel sebagai bangsa pilihan Allah. Orang Kristen Yahudi merasa eksklusif “Yang Dipilih Allah”.
Dalam dunia budaya Yunani-Romawi saat itu larangan makan tidak ada pembatasan dan larangan tentang makanan.
Tetapi bagi orang Yahudi makanan yang dilarang oleh HukumTaurat merupakan tuntutan iman dan wajib dilaksanakan.
Ketika orang Kristen Yahudi kembali ke Roma mereka belum berani membuka tempat khusus untuk menyembelih daging secara “kosher” (sesuai dengan adat dan peraturan hukum Taurat), karena mereka masih takut terhadap pemerintah Roma.
Namun mereka tetap memelihara peraturan makanan. Daging yang tidak disembelih secara khusus dan darah dikeluarkan dinilai najis. Karena itu mereka hanya makan sayur-sayuran saja.
Paulus dengan lembut menyapa dan menegur jemaat lewat ungkapan si “Lemah” yang menunjuk kepada orang Kristen Yahudi.
Namun bukan berarti Paulus menunjuk kepada orang Kristen non-Yahudi sebagai yang si “Kuat”.
Memang ada anggapan bahwa ungkapan ini berhubungan dengan perbandingan jumlah jemaat Kristen Yahudi dan Kristen non-Yahudi.
















