Di mana mayoritas orang Kristen di Roma adalah orang Kristen non-Yahudi dan orang Kristen Yahudi adalah kaum minoritas.
Kata “Lemah” di sini berasal dari kata Yunani astheneo berarti lemah secara fisik. Namun arti lemah digunakan Paulus merujuk ada lemah iman, kegagalan untuk percaya penuh kepada Allah tanpa pengecualian (Roma 4).
Orang Kristen Yahudi sangatlah memperhatikan persoalan hari-hari raya karena ada hari yang ditetapkan lebih suci dan dikuduskan dari hari yang lain, tetapi orang Kristen Non-Yahudi beranggapan bahwa orang semua hari sama saja.
Paulus memediasi pertentangan ini dengan memberi gambaran tentang kekristenan adalah satu kesatuan dan bahwa tidak ada seorang pun hidup dan mati untuk dirinya sendiri karena baik hidup atau mati adalah milik Allah.
Paulus juga memberi teguran terhadap sikap saling menghina dan menghakimi di antara mereka sebagai saudara seiman dalam Yesus Kristus.
Karena pada akhirnya semua akan ada dalam pengadilan Allah atas segala perbuatan baik dan jahat (2 Korintus 5:10).
Paulus mengutip Perjanjian Lama Yesaya 45:23 “Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali: dan semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa, (24) sambil berkata: Keadilan dan kekuatan hanya ada di dalam TUHAN.”
Paulus berkata bahwa kita akan ada dalam pertanggung jawaban akan diri sendiri di hadapan Allah.
















