Karena itu pemazmur menyampaikan doa permohonan pemulihan ini dalam bentuk “hadirnya suasana damai”, sebagaimana disebutkan dalam ayat 9 “Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN.
Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan?”.
Tindakan kebodohan ialah perbuatan-perbuatan yang menjadi penyebab sehingga bangsa itu dihukum dengan dibuang ke tanah pembuangan.
Sekalipun bangsa itu dikasihi Allah, tapi jika mereka membiarkan pikiran dan hati dipikat oleh kekuatan-kekuatan yang bukan Allah, mereka akan berada di titik nadir kebodohan.
Pemazmur yang adalah seorang pemimpin atau imam di Israel menjadi agen penggerak Gerakan Doa Permohonan Pemulihan agar ada kedamaian dan ketenangan dalam kehidupan umat yang baru pulang dari tanah pembuangan.
Pemazmur menyampaikan harapan tentang bentuk-bentuk “damai, sebagai visi ilahi” yang diperkenankan Tuhan:
Pertama: Damai, ketika kasih dan kesetiaan bertemu (ayat 11a).
Kasih tanpa ketaatan, bukan kasih. Ibarat bangunan yang kelihatan indah dari depan tapi tidak teratur atau bobrok di dalam.
Saat Israel berada di pembuangan, mereka menyadari bahwa ini dikarenakan praktik ritual mereka bagus dan megah, tapi di dalamnya palsu.
















