Hal menarik adalah meskipun penderitaannya sedemikian berat tetapi dia membiarkan dirinya disakiti dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; …ia tidak membuka mulutnya (ayat 7: TB2).
Pernyataan ini menegaskan kerelaan hati dan kesediaan diri untuk berkorban, pemberian diri, ketaatan, untuk menanggung semua penderitaan tersebut.
Sebab, dengan melakukannya, kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya (ayat 10: TB2).
Sementara itu ayat 11 (TB2) menyatakan oleh pengetahuannya, hamba-Ku, orang benar itu, akan membenarkan banyak orang (Ibrani: yatsadiq, dia akan membuat benar).
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sang hamba rela menanggung penderitaan tersebut karena ia tahu bahwa yang ia lakukan adalah kehendak Tuhan Alah dan dengan melakukannya, banyak orang akan dibenarkan.
Sikap dan tindakan yang demikianlah yang jelas menyatakan sang hamba sebagai orang benar di hadapan Tuhan Allah.
Hal penting yang dipelajari di sini adalah bahwa sang hamba, yang benar di mata Tuhan, bersedia menderita demi kepentingan orang banyak.
Dan lebih penting lagi taat dan setia untuk melakukan atau menyatakan kehendak Tuhan Allah yaitu pembenaran atau keselamatan bagi semua orang.













