Ditegaskannya, Prabowo tidak bisa blusukan, sedangkan Ganjar adalah pemimpin rakyat, pemimpin yang berasal dari kita bersama dengan Prof Mahfud MD.
“Perpaduan antara Ganjar dan Mahfud bukan hanya pemimpin yang energik pemimpin yang mengedepankan program-program ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja menuntaskan kemiskinan dan juga mengedepankan seluruh rancangan ekonomi didalam membangun indonesia yang unggul,” jelasnya.
Untuk target di Sulut ia mengatakan bahwa dalam Rakerda ini akan menfarmulasikan berapa target di Pileg dan Pilpres dari setiap Kab/Kota dan Provinsi.
“Tetapi sebagai basis PDI Perjuangan tentu saja ini menjadi modal utama bagi pak Ganjar dan Mahfud dan Pdi Perjuangan untuk kemenangan,” tegasnya.
Terkait survei katanya itu bisa dibuat, karena banyak lembaga yang menjadi tim kemenangan.
“Jadi kita lihat di sini sentimentil, sentimen positif terhadap Ganjar-Mahfud di atas 62 persen sementara Prabowo-Gibran di bawah,” katanya.
“Mengapa? Karena saat mas Gibran menyatakan kenaikan pajak tiba-tiba sekarang terjadi kenaikan pajak untuk liburan dan sebagainya, kemudian bagaimana pernyataan pak Prabowo yang sangat emosional pernyataan yang tidak pantas sebagai pemimpin, kemudian pernyataan yang menimbulkan gugatan terhadap lawan debatnya ini benih-benih pemerintahan otoriter,” tegas Hasto.
Dikatakan pula, debat yang seharusnya ada kebebasan berbicara kemudian kalah debat kemudian diajuhkan ke Bawaslu menjadi benih-benih otoritrisme yang hidup kembali di dalam kepemimpinan Prabowo, karena ini sentimennya sangat negatif.



















