Namun, ini bukan perjuangan akhir Frans dan Alex. Mencuci dan mencetak foto di masa darurat itu tidak mudah. Alex dan Frans harus diam-diam menyelinap di malam hari, panjat pohon dan lompati pagar di sampaing kantor Domei (sekarang kantor Antara).
“Negatif foto lolos dan dicetak di sebuah lab foto. Resiko bagi Mendur Bersaudara jika tertangkap tentara Jepang adalah penjara, bahkan hukuman mati,” tulis Kristupa.
Meski foto-foto sudah dicetak, namun mereka belum bisa mempublikasikannya di media. Jepang melakukan pengawasan ketat terhadap semua media. Berita proklamasi kemerdekaan Indonesia hanya diberitakan singkat tanpa foto di harian Asia Raya, 18 Agustus 1945.
Nanti 6 bulan kemudian, 20 Februari 1946 foto-foto Proklamasi 17 Agustus 1945 karya Frans baru bisa dipublikasikan. Pertama kali terbit halaman muka Harian Merdeka, koran tempat Alex bekerja.
Alex banyak menghasilkan karya foto jurnalistik. Salah satu foto monumental lain karya Alex adalah foto pidato Bung Tomo yang berapi-api di Mojokerto tahun 1945.
Foto monumental lain karya Frans Mendur adalah foto Soekarno yang menjemput Panglima Besar Jendral Soedirman pulang dari perang gerilya di Jogja, 10 Juli 1949.

















