Selain itu, tercantum juga amsal-amsal orang bijak (Ams. 22:17-24:34), perkataan Agur bin Yake (Ams. 30) dan amsal untuk Lemuel dari ibunya (Ams. 31:1-9).
Kitab ini memberi gambaran tentang pengajaran praktis dan petunjuk hidup untuk dilakukan dalam kebijaksanaan yang bermula dari menghormati dan menaati Tuhan Allah sumber hikmat (1:7, 2:6).
Tujuan kitab ini adalah untuk menerapkan prinsip-prinsip iman dalam sikap dan pengalaman hidup sehari-hari yang diungkapkan dalam bentuk petuah, peribahasa, perumpamaan dan pepatah.
Adapun ruang lingkup pengajaran dalam kitab Amsal menyangkut berbagai bidang kehidupan baik itu tentang keluarga, pernikahan, perdagangan, pergaulan, peradilan.
Maupun komparasi kehidupan antara orang bijaksana dan bodoh, orang benar dan orang fasik, orang rajin dan orang malas serta yang lainnya.
Amsal 3:1-10 berisi ucapan pengajaran atau wejangan hikmat dari orang tua kepada anaknya.
Dalam tradisi orang Israel, para orang tua memegang peranan penting dalam proses pendidikan iman bagi anak-anak mereka (bnd. Ul. 6:4-8).
Sejak kecil anak-anak orang Israel telah diajarkan pokok-pokok iman kepada Tuhan Allah dengan tujuan supaya keturunan mereka tidak melupakan-Nya agar hidup takut akan Tuhan Allah nyata dalam perilaku hidup setiap hari dari generasi ke generasi.
Itulah sebabnya sapaan pertama dalam Amsal pasal 3 ini diawali dengan ungkapan “Hai anakku”.
Hal ini menerangkan bahwa pengamsal menempatkan dirinya sebagai orang tua atau ayah/bapa yang berkewajiban menuntun anaknya mengikuti ajaran Tuhan Allah.
















