Sementara kata setia (Ibr: Emet, Ingg: Truth/Faithfulness) dapat juga diartikan sebagai kebenaran.
Kasih dan setia terikat dalam sebuah perjanjian yang menggambarkan hubungan antara Tuhan Allah dan umat-Nya.
Dari sini dapat dipahami bahwa bagian ini menekankan tentang kepribadian dan tindakan manusia dalam mewujudkan ajaran dan perintah Tuhan Allah yang terlihat dalam perilaku yang penuh kebaikan dan kebenaran.
Sebab hanya oleh kasih setia Tuhan Allah maka setiap orang beriman dimampukan untuk melakukan kehendak-Nya dalam situasi dan kondisi apapun.
Karena itulah diingatkan jangan sampai kehilangan kasih dan setia dalam relasi dengan Tuhan Allah dan sesama manusia.
Kalungkan pada leher dan tuliskan pada loh hati merupakan ungkapan simbolis untuk tetap mengingat, jangan sampai hilang, harus menyatu dengan diri dan tertanam dalam manusia batiniah.
Tetap tunduk dalam kasih dan setia supaya dapat dilihat oleh banyak orang sehingga menghasilkan cara dan gaya hidup yang disenangi (mendapat kasih dan penghargaan) oleh Allah serta manusia (ayat 4).
Dengan demikian pengamsal sementara mengajarkan tentang konsep iman kepada Tuhan Allah yang terjabarkan dalam praktik hidup setiap hari.
Adanya kesesuaian antara hidup beriman dan perbuatannya yang terlihat dalam hubungan vertikal (dengan Tuhan) dan horizontal (dengan sesama manusia).
Dalam ayat 5-10 memuat ajaran kesalehan hidup yang bersumber dari Tuhan Allah. “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu” (ayat 5) berarti menaruh percaya (Ingg.: Trust) yang dalam dan penuh dengan segenap totalitas hidup karena adanya hubungan yang dekat.
















